08 Februari 2009

Sabriye Tenberken : Wanita Fenomenal





Ia baru berusia 26 tahun dan buta ketika berangkat ke Tibet dari Jerman untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak buta. Ia mengajari mereka membaca braille, bicara 3 bahasa dan mengurus diri mereka sendiri, juga agar mereka bisa saling mengajari diantara mereka.
Sabriye Tenberken adalah wanita yang penuh semangat, ia biasa berjalan cepat dan juga mengendarai kuda. Ketika orang berkata kepadanya, bagaimana kau bisa berkuda padahal kau buta, ia pun menjawab : aku buta tapi kudaku tidak”.
Di Tibet ia mendirikan sekolah yang diberi nama “Braille Without Borders*, yang merupakan sekolah pertama bagi orang buta di Tibet. Ini menjadi tempat belajar dan pelatihan yang membawa perubahan besar bagi status, pemikiran dan masa depan orang-orang buta.
Sabriye kini dibantu oleh patnernya Paul Kronenberg, yang menangani bagian praktek disekolah, telah mendapat penghargaan dari Ratu Belanda. Ia juga telah memenangkan banyak penghargaan dan piala untuk pekerjaannya. Ia mengatakan : tidak ada yang bisa menghina saya karena saya buta sebab saya bangga menjadi buta.
Sebenarnya Sabriye waktu anak-anak bisa melihat, tapi ia memang punya penyakit dimatanya yang menyebabkannya buta di umur 12 tahun. Pada waktu awal-awal sekolah ia masih bisa membedakan bentuk, warna, pemandangan, tapi kemudian pandangannya perlahan-lahan semakin menurun. Guru-gurunya mengiranya ia bodoh dan teman2 dikelasnya juga menolak dan mengolok-oloknya. Ia lalu memutuskan untuk menyesuaikan diri, ia menolak untuk kebutaan itu dan bekerja keras terus menerus untuk menutupinya.

Mengingat saat-saat itu, Sabriye mengatakan “ tidak menerima bahwa aku buta sangat tidak menyenangkan…aku terus menerus lari dan berpura-pura. Ia berhenti sejenak dan sebuah emosi terlihat diwajahnya, ia tambahakan : “baru ketika aku menerima kebutaanku , baru akan mulai hidup lagi”.

Ia kemudian pindah kesekolah asrama untuk anak-anak buta. Disana dia diajari berkuda, berenang, berperahu, membaca, menulis braille dan yang paling utama belajar bagaimana hidup mandiri.
"Tiba-tiba, aku berada diantara orang-orang lain yang juga buta, aku punya banyak teman, aku sama dan bahagia… aku pikir , ok aku mungkin jelek dan buta, tapi aku punya otak, aku pasti bisa melakukan banyak hal.

Tenberken kemudian belajar di University of Bonn, mempelajari kebudayaan Asia Tengah. Ia adalah satu-satunya mahasiswa buta diantara 30,000 orang. Disana beberapa profesor mencoba untuk merayunya agar tidak mempelajari bahasa Tibet yang menurut mereka sangat sulit dipelajari apalagi untuk Sabriye yang buta. Selain itu tidak ada text bahasa Tibet yang tersedia dalam huruf braille. Ia lalu menciptakan metode sendiri untuk menterjemahkan bahasa Tibet kedalam huruf Braille. Ia berhasil membuat kamus Tibet -Jerman/Jermn-Tibet dan bahkan ia membantu untuk membuat software yang memungkinkannya untuk mengolah tulisan Tibet ke huruf Braille.
"Aku mengembangkan sistem ini untuk kugunakan sendiri, katanya, tapi ketika aku menyadari bahwa orang buta di Tibet juga bisa memperoleh manfaat dari hal ini, aku dapat ide untuk membawanya sendiri ke Tiber dan mulai membuka sekolah.
Setelah ditolak oleh beberapa organisasi yang melihat kebutaannya sebagai halangan besar, Sabriye pun akhirnya melakukan proyek itu sendiri.

Tahun 1997, diusia 26 ia melakukan perjalanan sendiri ke China, lalu mengambil kursus intensif bahasa China. Kemudian baru ia berangkat ke Tibet, dan ia baru tahu bahwa lebih dari 30.000 orang dari 2,6 juta rakyat Tibet, adalah buta, angka ini 2x lipat angka kebutaan dunia. Selain masalah kekurangan gizi dan kondisi lingkungan yang kurang bersih, faktor utama lain adalah posisi Tibet yang berada di ketinggian yang menyebabkan sinar ultraviolet matahari menyebabkan kerusakan pada mata yang tidak dilindungi.

Tenberken menemukan anggapan umum dimasyarakat Tibet, dimana kebutaan dianggap sebagai hukuman atau karma dari perbuatan orang itu dikehidupan mereka sebelum reinkarnasi. Selama berabad-abad orang buta di Tibet dianggap sebagai manusia rendah. Tidak heran ketika Sabriye pertama datang, ia melihat tidak ada satupun organisasi yang ada disana untuk menyediakan pendampingan untuk orang buta.
Tenberken memutuskan untuk mengunjungi daerah pedesaan dan menyebarkan informasi tentang sistem braille yang ingin ia ajarkan. Ia mengunjungi desa-desa dengan mengendarai kuda, ditemani 3 orang teman yang sangat mendukung, dimana 2 diantaranya adalah orang Tibet asli. Mereka keluar masuk desa melewati gunung2 tinggi dan sungai2 yang meluap. Apa yang ia temukan sangat menggetarkan hatinya , orang2 buta dikurung, direndahkan kadang dipukuli, ditinggalkan atau ada dijalan-jalan menjadi pengemis. Hampir semuanya miskin dan tidak berpendidikan.
Ketika orang-orang desa melihat Sabriye berjalan atau mengendarai kuda, mereka pertama kali tidak menduga bahwa ia buta. Sabriye membujuk mereka bahwa meskipun buta, anak-anak mereka pun dapat mengendarai kuda, membaca dan menulis. Salah satu ayah dari anak yang buta pernah berkata pada nya ; masa depan dari sekolahmu adalah seperti mimpi bagi kami.
Pada saat wawancara dilakukan ada 37 siswa berusia antara 3 – 19 tahun yang tinggal disekolah, juga ada 6 guru dan 5 staff, tapi murid baru pun terus bertambah secara teratur. Ketika ditanyakan darimana ia dapat dana untuk menjalankan sekolah itu yang tidak mengenakan biaya apapun pada muridnya, Sabriye mengatakan sambil tersenyum : ‘ perlu biaya sekitar $2,000 perbulan untuk ongkos proyek ini. Tapi ini tidak banyak, mungkin akhir tahun nanti kami dapat dananya entah darimana."
Tenberken, telah menggunakan $20,000 uang pribadinya untuk membuka sekolah, telah banyak mengajukan permohonan bantuan, berpidato dan melakukan perjalanan untuk menggalang dana. Kini proyek ini telah mendapat perhatian luas dan sekolah menerima kunjungan hampir 5000 pengunjung tiap tahun, sedangkan sumbangan tidak selalu ada saat dibutuhkan.
Tenberken mengatakan ”sebab utama orang tidak menyumbangkan kami uang adalah karena kami tidak meminta sumbangan dengan minta belas kasihan. Ia percaya bahwa jika ia menyajikan murid-muridnya dengan cara seperti itu justru akan memperparah anggapan buruk terhdap mereka. Kami telah belajar bahwa anda akan dapat dana jika orang merasa kasihan tapi persepsi tentang kemampuan anda tidak pernah berubah."

Tenberken mengatakan ketika murid pertama tiba disekolah dan diajak melakukan sesuatu atau tugas sekolah, mereka seringkali menolak dan mengatakan “aku buta, aku tidak bisa melakukan itu, tapi ketika mereka melihat murid lain bekerja keras, mereka berubah pikiran. Murid-murid saling tolong menolong, tidak lagi pasif menunggu disuruh.
Tenberken tersenyum. Itu selalu menjadi harapanku. Aku tidak pernah ingin datang kesini sebagai orang barat dan menolong orang buta dengan menyuruh mereka melakukan apa yang harus dilakukan, aku belajar dari mereka. Kami mengkombinasikan pengalaman kami. Aku salah satu dari mereka, dan ini adalah proyek mereka dan juga aku.
Sabriye bertujuan mengajarkan muridnya untuk menyatu dengan lingkungannya, bagaimana mendidik orang normal untuk menerima yang buta.

"Aku percaya perubahan persepsi komunitas terhadap orang buta harus diawali dari yang buta sendiri. Ketika anak-anak kami kembali kedesanya, mereka tahu banyak hal baru yang keluarganya sendiri tidak pernah belajar. Dibanyak desa, penduduknya tidak berbahasa china dan inggris, dan anaknya yang buta akan menterjemahkannya untuk mereka. Mereka akan kembali dengan nilai yang baru, untuk pertama kali mereka akan dilihat bahwa mereka berguna.
Setelah selesai sekolah dasar di BWB, murid-muridnya dapat kembali kedesa mereka dan masuk sekolah umum bersama anak-anak normal atau dilatih untuk melakukan kursus keahlian misalnya pijat pengobatan, beternak, membuat keju, dll.
Tujuan Sabriye berikutnya adalah mendirikan tempat training international yang berpusat di Kerala, India, dimana orang-orang buta dari seluruh dunia dapat belajar mengenai manajemen yang diperlukan untuk mendirikan sendiri sekolah dan training center untuk orang buta didaerah mereka masing-masing.
Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Sabriye Tenberken telah membuktikan bahwa tugas mendirikan BWB diatas kakinya sendiri merupakan hal paling berat yang pernah ia lakukan. Mulai dari birokrasi yang berbelit, kesulitan saat mengumpulkan dana, keraguan dari banyak pihak.

Saat pertama rasanya sungguh menyedihkan, tapi tantangan akan membuat kita tambah kuat. Orang-orang mencoba membatasi aku, tapi batasan selalu mendatangkan kesempatan. Aku tetap bertahan sebab aku percaya semua itu mungkin”

Tidak ada komentar: